Cerita Suta

STORY 1

Baby Malika dan Saya

Sudah mendekati dua tahun saya bekerja di Baby Malika. Awalnya tak menyangka saya akan mendapatkan pengalaman sepanjang ini dengan motivasi awal saya yang hanya sekadar mencari nominal. Akan tetapi menjadi bagian dari Tim yang dipimpin oleh Bapak (Pak Yayat, founder Baby Malika), membuka cakrawala saya lebih luas lagi. Semua itu diawali dengan ditunjuknya saya oleh Bapak untuk menjadi supervisor divisi konten dan sosial media.

Bagi seorang yang awalnya hanya sedikit memiliki kemampuan untuk mengambil gambar dan kemudian diberi amanah untuk memimpin sebuah tim, yang sebenarnya saya juga tidak begitu paham akan tugas pokok dari tim tersebut kala itu, membuat saya semakin bersemangat untuk mengembangkan Baby Malika. Amanah tersebut merubah saya dari orang yang menggunakan sosial media hanya alakadarnya, menjadi orang yang cukup paham dengan seluk beluk sosial media walau masih dalam permukaan saja. Akan tetapi saat itu saya belum tahu bahwa tantangan yang lebih berat akan muncul.

Naik dan turun dalam motivasi pun tentu terjadi. Terkadang kesal, sering lelah, bahkan hampir tersirat niatan untuk keluar mencari pekerjaan dengan nominal yang lebih baik karena merasa diri sudah terupgrade dengan sangat cukup. Hingga akhirnya saya diamanahi untuk menjadi seorang Product Owner dari pola kerja SCRUM. Sebuah pekerjaan yang sangat asing bagi saya. Disinilah saya benar-benar memeras otak. Apalagi ketika itu bertepatan dengan kehamilan ketiga dari Ibu Rimai yang membuat Bapak harus absen dari kantor selama hampir empat bulan dan membuat saya harus memberi tenaga lebih lagi dan lagi untuk keluar dari zona nyaman saya. Disinilah saya menemukan bahwa keahlian saya ada pada konsep, bukan eksekusi. Namun akhirnya, karena kami kurang memahami fundamental dari pola kerja SCRUM, Bapak memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi.

Perubahan pola ini menghantarkan saya menjadi bagian dari tim pengembangan branding. Dan saya memutuskan untuk fokus mempelajari teknik-teknik penyusunan strategi pengembangan branding. Inilah tempat saya dapat berkarya, memaksimalkan kemampuan dan pengetahuan saya serta memberi nilai tambah untuk Baby Malika, sebuah perusahaan yang membuat saya merasa berguna dan bermanfaat menuju kisah baru yang lebih baik.

To be continued…

STORY 2

Two Fundamental Points for Excellent Team

Merasa kinerja tim lambat? Tak pernah sesuai deadline? Mungkin ini bacaan yang cocok buat kamu!

Hanya cukup dua faktor yang membuat sebuah tim dapat bekerja efektif dan efisien. Terutama jika anggota tim adalah newbie. Yah walaupun tak ideal kalau semua anggota tim adalah newbie, tapi tentu bisa saja terjadi. Terutama di perusahaan dengan tim-tim rintisan. Begitulah yang saya temui di Baby Malika. Lalu apa sih dua faktor fundamental biar bisa boost kinerja tim?

Oke, sebelum saya menjelaskan dua faktor tersebut, saya ingin berterima kasih kepada Bapak Yayat karena dari beliau lah saya dapat ilmu ini. Saya mau sharing juga karena bisa jadi inilah yang kamu cari-cari dari dulu.

Karena terimakasih sudah tersampaikan, jadi saya langsung saja menjelaskan mulai dari faktor pertama ya. Faktor ini, menurut saya sangat sering dilupakan. Mayoritas anggota tim cenderung langsung action membawa bekal dari pikiran mereka sendiri. Merefleksikan kedalam diri langkah-langkah yang bakal dikerjakan dari pengalaman tim sebelumnya yang sebenarnya bisa jadi kurang tepat atau tidak sesuai tujuan baru. Apa itu? Faktornya adalah paham teori secukupnya.

Cukupi referensi, jangan buru-buru. Poinnya adalah cukup ya, bukan menyeluruh. Paham konsep 20% lebih baik dari berasumsi paham seberapapun besarnya. Google everything. Skill searching harus lebih diperkuat sekarang sekarang ini. Semua udah ada, tersedia di ujung jari. So, buat apa buru-buru? Kecuali kalau kamu memang udah ahli.

Yang kedua adalah eksekusi sesegera mungkin, sebaik mungkin. Faktor kedua ini bukan kontradiktif sama yang pertama ya. Maksudnya adalah kalau sudah merasa cukup sama referensinya, segera dilakukan. Tapi jangan sembarangan, harus tepat dan akurat menuju target. Kalau referensi sudah cukup,eksekusi juga sudah segera, tapi jauh dari target percuma juga ya kan. Oleh karena itu sebelum memulai dengan segera, pastikan kamu sudah paham targetnya apa biar nggak kesasar, oke?

Kapan bisa tau kalo udah cukup referensi dan bisa langsung eksekusi? Sayangnya nggak ada patokan buat ini. Semua tergantung kemampuan berpikir masing-masing. Tapi pastinya dengan punya banyak referensi, hasilnya juga bakal sesuai kok. Tinggal pengalaman yang menentukan.

Cheers!

 

Amarylli Suta